BI Pertahankan Suku Bunga Acuan, Apa Bakal Manjur Tahan Laju Perlambatan Rupiah

 BI Pertahankan Suku Bunga Acuan, Apa Bakal Manjur Tahan Laju Perlambatan Rupiah


Bank Indonesia pada 14 April 2020 melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) menetapkan suku bunga acuan BI 7 Day RR (Reverse Repo) tetap pada level 4.5%, dengan suku bunga deposit facility tetap pada level 3,75% serta lending facility pada level 5,25%.

Langkah strategis tersebut dilakukan guna menahan laju pelemahan rupiah USD/IDR terhadap USD, di mana diketahui apabila terjadi penurunan suku bunga acuan, ekonomi akan dibanjiri dengan likuiditas berlebihan berbentuk rupiah (dari sisi suplai), sehingga dengan permintaan yang cenderung tetap, maka rupiah akan cenderung melemah di pasaran, apalagi terhadap mata uang dominan seperti USD.

Bayangkan apabila dengan pemangkasan suku bunga acuan, nilai rupiah makin melemah, di mana sektor privat yang memiliki obligasi dalam bentuk USD harus membayar utangnya dengan nominasi yang lebih besar, di samping penurunan laba bersih dikarenakan dampak COVID19 oleh perekonomian. Hal ini juga dialami oleh sektor publik baik BUMN maupun pemerintahan, di mana sebagian besar obligasinya dikeluarkan dalam bentuk USD.

Sebagai langkah pencegahan, RDG BI mengambil kebijakan moneter lainnya yakni menurunkan Giro Wajib Minimum pada perbankan, guna mendukung upaya pemulihan ekonomi nasional. Besar penurunan GWM untuk mata uang rupiah adalah sebesar 200 bps atau sebesar 2% untuk bank umum konvensional, serta 50 bps atau sebesar 0,5% untuk bank umum syariah, berlaku efektif sejak 1 Mei 2020.

Perpanjangan operasi moneter juga dilakukan dalam bentuk penyediaan repurchase agreement berjangka (term repo) kepada bank bank serta korporasi dengan transaksi SUN/SBSN sebagai underlying, memiliki tenor hingga 1 tahun. Operasi pelonggaran moneter ini dilakukan guna penambahan likuiditas bagi bank dan korporasi.

Di samping itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo optimis dalam hal perbaikan perekonomian Indonesia pada kuartal IV 2020, juga berlaku pada negara berkembang lainnya.

Juga di dalam rapat yang sama, estimasi pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada level 2.3%, yakni masih dalam angka optimis dalam rentang estimasi yang dipaparkan Sri Mulyani, dengan kemungkinan terburuk kontraksi sebesar 0,4%.



Sumber:investing.com