Kekhawatiran Resesi akibat COVID-19 Membuat Pasar Saham Terguncang

 Kekhawatiran Resesi akibat COVID-19 Membuat Pasar Saham Terguncang


Bursa Wall Street tumbang pada perdagangan akhir pekan, dipicu oleh kekhawatiran terhadap virus korona yang berpotensi membuat resesi ekonomi global. Tekanan jual muncul setelah adanya pembatasan ketat yang diberlakukan oleh dua negara bagian AS terpadat, yaitu New York dan California yang mempengaruhi sekitar 40 juta orang, untuk mencoba membatasi penyebaran wabah COVID-19. Kondisi ini memicu kekhawatiran pelaku pasar tentang kerusakan pada ekonomi AS. Dow Jones anjlok 913,21 poin (-4,55%) menjadi 19.173,98, S&P 500 rontok 104,47 poin (-4,34%) menjadi 2.304,92 dan Nasdaq meluncur 271,06 poin (-3,79%) ke level 6.879,52. Ketiga indeks saham utama AS mencatat penurunan mingguan terbesar sejak Oktober 2008. Secara mingguan, Dow Jones mengalami penurunan sebesar -17,3%, S&P 500 kehilangan -14,98% dan Nasdaq melemah -12,64%.

Dari dalam negeri, IHSG berhasil bangkit pada perdagangan akhir pekan dengan ditutup menguat 89,523 pon (+2,18%) ke level 4.194,944. Investor asing membukukan net sell sebesar Rp 865 miliar di pasar reguler. Meski bergerak menguat di akhir pekan, tapi jika dilihat secara mingguan IHSG masih mencatatkan koreksi hingga -14,52%. Penurunan ini juga diikuti dengan keluarnya dana asing (foreign net sell) sebesar 3,07 triliun di pasar regular dalam sepekan.

Pasar saham dunia terguncang pada pekan lalu, dipicu oleh penyebaran COVID-19 yang cepat dan massif ke seluruh penjuru dunia, sehingga dikhawatirkan dapat mengancam pertumbuhan ekonomi global. Kekhawatiran ini makin bertambah setelah beberapa negara melakukan lockdown dan mengurangi aktivitas serta memberlakukan pembatasan perjalanan sehingga makin meningkatkan pesimisme pelaku pasar terhadap perekonomian global kedepan. Beberapa negara bahkan sudah kembali mulai merevisi turun pertumbuhan ekonominya.

Berbagai bauran kebijakan telah dilakukan oleh beberapa pemerintahan maupun bank-bank sentral negara guna megurangi dampak wabah virus korona bagi perekonomian global. Namun upaya tersebut masih gagal menghentikan gelombang panic selling. Tekanan jual juga terus dialami oleh IHSG sepanjang pekan lalu. Bahkan perdagangan IHSG sempat diberhentikan atau mengalami trading halt beberapa kali karena anjlok hingga mencapai -5% dalam sehari. Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level psikologis 16.000/USD, atau level terendah sejak Juni 1998 serta terus meningkatnya jumlah orang yang terinfeksi dan meninggal akibat COVID-19 di Indonesia, semakin membenamkan IHSG ke zona bearish. Bahkan IHSG sempat meninggalkan level psikologis 4000, sebelum akhirnya berhasil menguat di akhir pekan karena didorong oleh technical rebound akibat aksi jual terus menerus.

Secara teknikal IHSG berada di fase downtrend dan terlihat masih bergerak dalam pola turun. Namun candle terakhir IHSG kembali terlihat cukup menarik, setelah membentuk pola bullish pin bar dengan ekor bawah yang panjang. Kondisi ini mengindikasikan bahwa kekuatan buyer mulai muncul dan melawan tekanan yang dilakukan oleh pihak seller.

Untuk minggu ini IHSG kemungkinan akan bergerak dalam pola konsolidasi tapi masih cenderung turun. Diperkirakan IHSG akan bergerak dalam kisaran area support 3.918 dan resistance di level 4.334 pada pekan ini. Indikator teknikal MACD yang masih bergerak turun di area negatif, mengindikasikan bahwa IHSG masih dalam tren bearish.

Pekan ini tidak ada data ekonomi penting dari dalam negeri yang ditunggu oleh pelaku pasar, selain rilis hasil kinerja tahun 2019 dari para emiten yang belum keluar. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari para investor pada pekan ini diantaranya adalah:

  • Selasa 24 Maret 2020 : Rilis data sektor jasa dan manufaktur Jerman, Rilis data sektor jasa dan manufaktur Inggris, Rilis data manufaktur AS
  • Rabu 25 Maret 2020 : Rilis indeks iklim bisnis Jerman, Rilis data inflasi Inggris, Rilis data durable goods orders AS
  • Kamis 26 Maret 2020 : Rilis data keyakinan konsumen JErman, Rilis data penjuralan ritel Inggris, Kebijakan moneter dan Suku bunga BOE Inggris, Rilis data GDP dan klaim pengangguran AS
  • Jum’at 27 Maret 2020 : Rilis data pengeluaran dan pendapatan pribadi bulanan AS

Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Sentimen negatif dari wabah COVID-19 kemungkinan masih akan menyita perhatian para pelaku pasar saham dunia. Pandemi COVID-19 telah membuat ketidakpastian tinggi bagi pasar keuangan. Aksi lockdown yang dilakukan di berbagai tempat pada beberapa negara, membuat para pelaku pasar cenderung melepas portofolionya dan memegang cash, dengan menambah dana darurat untuk berjaga-jaga akibat ketidakpastian kapan wabah ini akan berakhir. Kondisi ini membuat pasar saham masih cenderung tertekan dan sulit mengalami rebound.

Perhatikan level support 3.918, yang apabila kembali tertembus ke bawah, maka IHSG akan membentuk lower low dan melanjutkan tren bearishnya. Namun selama tidak tembus, maka IHSG akan cenderung relatif aman dan berpeluang mengalami konsolidasi. Untuk itu disarankan safe trading. Tetap berhati-hati apabila kondisi pasar masih tidak kondusif serta ketidakpastian terus berlanjut. Cermati arah perkembangan pasar dan selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang memiliki kinerja bagus dan prospek cerah kedepan. Atur strategi pembelian dan money manajemennya.    

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. 

Safe Trading, Good Luck & GBU Always



Sumber:investing.com