Moving Avarages
Moving avarages adalah harga rata-rata dari pergerakan mata uang dalam
periode tertentu. Dengan menerapkan indikator MA (moving avarages) hasil
yang didapat adalah sebuah grafik yang bergerak dengan lebih halus, terbebas
dari fluktuasi yang berlebihan. Indikator ini adalah yang paling sederhana
dan paling banyak digunakan oleh para trader.
Seperti juga indikator teknikal lainnya, MA digunakan untuk memperkirakan
pergerakan harga mata uang. Arah dan kemiringan MA dapat memberikan gambaran
umum kemana harga mata uang akan bergerak.
Ada beberapa macam MA, masing-masing memiliki tingkat kehalusannya sendiri.
Secara umum semakin 'halus' MA, semakin lambat reaksinya terhadap pergerakan
harga. Pada materi ini akan dibahas 2 macam MA
yang paling populer.
Simple Moving Average (SMA)
Simple Moving Avarage (SMA) adalah jenis MA yang paling sederhana. SMA
dihitung dengan menjumlahkan harga penutuoan sejumlah 'X' perioda dan
membaginya dengan 'X'. Misalkan anda menjumlahkan data 20 harga penutupan
selama 200 menit terakhir pada chart 10 menit dan membagi hasil
penjumlahannya dengan 20 maka anda akan mendapatkan SMA. Biasanya
chart yang digunakan untuk keperluan forex sudah dilengkapi dengan
fasilitas untuk menghitung dan memplot SMA ini. Anda bisa mengatur
berapa jumlah perioda yang ingin anda rata-ratakan dan anda akan
mendapatkan plotnya seperti pada gambar di bawah.
Seperti juga banyak indikator lain, MA memberikan hasil berdasarkan
rata-rata dari sekumpulan data yang sudah lewat. Karenanya yang anda
lihat tidak lain hanyalah 'prakiraan' dari pergerakan harga yang akan
muncul berikutnya, tetapi bukan gambaran yang sesungguhnya dari
harga yang akan muncul.
Pada gambar di atas kita melihat ada 3 SMA yang berbeda-beda periodanya.
Sebagaimana yang anda lihat semakin lama perioda SMA yang digunakan
semakin jauh plot itu tertinggal dari gerakan harga yang sesungguhnya.
Pada chart di atas tampak grafik 100 SMA terletak lebih jauh dari harga
yang sesungguhnya dibandingkan dengan 60 dan 20 SMA. Semakin banyak
perioda yang anda gunakan dalam SMA semakin lambat juga grafik SMA itu
berreaksi terhadap perubahan harga.
SMA pada chart di atas bisa memberikan gambaran yang lebih luas tentang
sentimen pasar. Daripada grafik pergerakan harga yang sangat
fluktuatif, SMA bisa memberikan gambaran yang lebih luas tentang
trend
dan sentimen pasar yang ada serta mampu memberikan gambaran yang
lebih baik dalam memprediksi pergerakan harga selanjutnya.
Tapi ada kelemahan dari SMA: grafik SMA sangat rentan terhadap spike
atau lonjakan harga yang terjadi di masa lalu. Misalkan saja anda
memplot 5 perioda SMA pada chart harian grafik USD/CHF dengan
data-data sebagai berikut:
Hari 1: 1.2345
Hari 2: 1.2350
Hari 3: 1.2360
Hari 4: 1.2365
Hari 5: 1.2370
Perhitungan SMA dari data di atas adalah sebagai berikut:
(1.2345+1.2350+1.2360+1.2365+1.2370)/5= 1.2358
Kelihatannya sederhana, tapi bagaimana jika pada pada hari kedua terjadi
spike dan harga penutupannya adalah 1.2285? Hasilnya SMA akan jauh
lebih rendah dan memberi gambaran yang keliru seolah-olah trend pergerakan
harga sedang menurun padahal yang terjadi hanyalah spike yang muncul karena
reaksi pasar sesaat di masa lalu.
Ada jenis MA lain yang dapat mengatasi masalah-masalah semacam ini dengan
lebih baik, yang mampu menyaring spike-spike sesaat di masa lalu macam
ini sehingga memberikan gambaran pergerakan harga terkini yang lebih baik.
Jenis MA yang dimaksudkan adalah Exponential Moving Avarages (EMA).
Exponential Moving Avarages (EMA)
Exponential Moving Avarages juga menjumlahkan sejumlah data-data yang
ada sebanyak beberapa perioda, tapi EMA memberikan
pembobotan yang
lebih besar pada harga-harga yang lebih baru. Jika diterapkan pada
contoh di atas, pembobotan pada harga hari ke 5 lebih besar dari pada
hari ke 4, pembobotan hari ke 4 lebih besar dari pada harga hari
ke 3, dan seterusnya. Dengan demikian spike yang terjadi pada hari ke 2
pengaruhnya akan jauh lebih kecil sehingga grafik EMA bisa memberikan
gamabaran trend pergerakan harga yang lebih baik dibandingkan SMA.
Mana yang lebih baik: Simple atau Exponential?
Kalau anda menghendaki grafik MA yang memiliki respon cepat terhadap
perubahan harga maka EMA dengan perioda yang pendek merupakan pilihan
terbaik. Anda bisa menangkap dengan cepat suatu perubahan trend, dengan
demikian bisa mengambil untung yang lebih besar.
Tapi kelemahannya juga ada: kepekaan yang lebih baik ini justru membuat EMA
dengan periode pendek mudah memberikan perubahan trend yang palsu. Dengan
mudah anda mengira sebuah spike sebagai perubahan trend sehingga anda
terpancing untuk mengambil transaksi yang salah.
Sebaliknya jika anda menghendaki MA yang lebih halus dan tidak terlalu
peka terhadap perubahan harga sesaat, mungkin SMA dengan perioda yang
panjang menjadi alternatif pilihan yang lebih baik. Karena SMA dengan
perioda panjang lambat berreaksi terhadap perubahan harga yang sesaat,
indikator ini dapat mencegah anda dari gerakan-gerakan palsu. Tapi
kelemahannya: indikator ini juga lambat memberitahukan kepada anda
jika ada suatu perubahan trend sehingga anda juga akan kehilangan banyak
kesempatan trading yang baik.
|   | Long SMA | Short EMA |
| Pro | Memberikan chart yang lebih halus yang mengeliminasi banyak gerakan palsu. |
Peka terhadap perubahan harga, bagus untuk menangkap trend. |
| Kontra | Kurang peka, lambat dalam menangkap adanya trend. |
Mudah terpengaruh oleh gerakan palsu. |
Jadi mana yang lebih baik? Satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah
dengan mencobanya sendiri. Setiap orang
memiliki tipe dan kecenderungan
yang berbeda dalam trading. Oleh karenanya apa yang lebih baik bagi
seseorang belum tentu baik juga bagi orang lain. Anda bisa
mencoba
beberapa setting EMA dan SMA lalu membandingkan-bandingkannya. Dengan
cara ini anda akan menemukan MA mana yang lebih cocok untuk kebutuhan
trading anda.