Rupiah Lanjut Menguat Pasca Pernyataan BI, Euro Naik Dipicu Aksi Beli

 Rupiah Lanjut Menguat Pasca Pernyataan BI, Euro Naik Dipicu Aksi Beli


© Reuters.

Investing.com – Rupiah lanjut menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan akhir pekan Jumat (29/05) petang. Dorongan positif rupiah hari ini berasal dari Bank Indonesia yang menyatakan nilai tukar rupiah saat ini masih undervalue, berpotensi ke kisaran Rp13.600-13.800 per dolar AS dan euro pun terus naik lantaran permintaan atas mata uang ini terus meningkat selama dua hari ini pasca pengumuman dana pinjaman stimulus dari pasar senilai €750 miliar. 

Rupiah USD/IDR berakhir menguat 0,71% di 14,610.0 sampai pukul 14.57 WIB menurut data Investing.com. Sebulan terakhir, rupiah telah menguat 1,78% dan seminggu ini naik 0,68%.

Saat pembukaan perdagangan melansir CNBC Indonesia Jumat (29/05), rupiah melemah 0,31% ke Rp 14.720/US$, tetapi tidak lama rupiah langsung masuk ke zona hijau. Penguatan rupiah semakin terakselerasi hingga 0,72% ke Rp 14.570/US$, sebelum memangkas penguatan dan mengakhiri perdagangan di level Rp 14.575/US$, menguat 0,68% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Rupiah saat ini berada di level terkuat sejak 12 Maret lalu.

Dengan penguatan tersebut, rupiah sekali lagi menjadi raja alias mata uang dengan kinerja terbaik di Asia. Status tersebut diraih Rabu lalu sebelum lengser Kamis kemarin.

Dengan penguatan tersebut rupiah akan membukukan penguatan 3 pekan beruntun. Bahkan jika dilihat sejak awal April, rupiah akan mencatat penguatan dalam 7 dari 8 pekan terakhir.

Pelemahan di awal perdagangan menunjukkan rupiah rentan terkena aksi ambil untung (profit taking), maklum saja sejak awal April sudah menguat lebih dari 10%.

Rupiah masih dinaungi sentimen positif dari rencana diputarnya lagi roda perekonomian, tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga luar negeri.

Momentum penguatan rupiah bertambah setelah mendapat angin segar dari Bank Indonesia (BI).

Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam paparan Perkembangan Ekonomi Terkini kemarin mengatakan nilai tukar rupiah saat ini masih undervalue, dan kedepannya akan kembali menguat ke nilai fundamentalnya, kembali ke level sebelum pandemi penyakit virus corona (Covid-19) terjadi di kisaran Rp 13.600-13.800/US$.

Sementara dari luar negeri berdasar laporan Poundsterlinglive Jumat (29/05) petang, perubahan fundamental ke arah sentimen yang lebih baik di Uni Eropa telah tercermin dalam permintaan stabil untuk euro selama dua hari terakhir dan ini memastikan meningkatnya prospek mata uang tunggal tersebut terhadap mata uang utama seperti Pound Inggris dan Dolar AS.

Pukul 16.45 WIB, EUR/USD naik 0,49% di 1,1130 dan EUR/GBP menguat 0,68% ke 0,9051 menurut data Investing.com.

Prospek kenaikan lanjutan Euro dalam beberapa hari dan minggu mendatang telah bertambah setelah Komisi Eropa setuju mendukung usulan Jerman-Perancis yang akan memungkinkannya meminjam uang dari pasar dan mengalihkan hasilnya ke ekonomi Eropa yang akan membutuhkan dana tambahan agar dapat pulih dari pandemi covid-19.

Komisi Eropa mengumumkan proposal ‘ Next (LON:NXT) Generation EU’ di mana Uni Eropa akan meminjam dana €750 miliar dari pasar dengan rencana untuk membayarnya kembali dalam jangka waktu tiga dekade dari 2028 hingga 2058 melalui anggaran Uni Eropa.



Sumber:investing.com